Selasa, 11 Juli 2017

MTW (Majlis Taklim Wirausaha)

MTW (Majlis Taklim Wirausaha)

…0,2 % orang Indonesia menguasai 74 % tanah di Indonesia….Apalagi yang 0,2 % itu, maaf-maaf bila pake Bahasa lama Non Pribumi.” Prof.Yusril Ihza Mahendra

“Saya tambahin, 50 % kekayaan Indonesia hari ini milik 1 % orang Indonesia, 70 % kekayaan milik 10 %...30 % bagi untuk 90 % orang Indonesia.” Prof.Karni Ilyas

Disampaikan dalam acara ILC (Indonesia Lawyer Club), Tahun Gaduh Berlalu, Tahun… Datang

Apa Arti FARDHU KIFAYAH Bagi Anda ?

Menjadi pengusaha bukan sekadar mencari uang. Ada nilai ibadah di dalamnya. Rasulullah SAW seorang pedagang sukses. Para sahabat beliau juga banyak yang menjadi pedagang kaya seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Kekayaan bisa membuat kita lebih ringan berdakwah. Membangun masjid, sekolah, rumah sakit, pabrik makan dan minuman, televisi, radio, bank dan banyak hal lainnya yang mempengaruhi hajat hidup kaum muslimin.

Bisnis bukan soal untung rugi, namun surga neraka. Bisnis harus bisa mendekatkan pemiliknya kepada Allah SWT. Bisnis harus bisa memasukkan pemiliknya ke surga. Jika bisnis membawa kita ke neraka untuk apa? KITA SEMUA bertanggung jawab untuk menegakkan FARDHU KIFAYAH Gerakan Ekonomi Berjama’ah ini !

“Apa arti fardhu kifayah? Tanya saya kepada ratusan ribu kaum muslimin pada seminar-seminar serta pelatihan yang pernah saya selenggarakan (termasuk kepada ratusan warga negara Malaysia saat saya memberikan pelatihan di sana).  Umumnya mereka bisa menjawab pertanyaan ini.
”Suatu kewajiban yang apabila suda ada seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakannya maka gugur kewawjiban bagi yang lainnya.” Jawab mereka.

Tapi, begitu saya minta untuk menyebutkan contohnya, 99 % menjawab “SHALAT JENAZAH ! Bukankah itu juga yang ada di pikiran Anda ?
“Ini sebabnya ummat Islam ini tertinggal tidak bisa maju? Yang ada di kepala kita hanya urusan orang mati ! Bukan urusan yang lainnya?
Saya kemudian mengambil botol air minum dalam kamasan, kemudian berkata,“Misalkan dalam botol minuman ini dimasukkan zat-zat yang mengandung unsur haram. Dalam makan ini dimasukkan bahan yang haram. Kancing baju yang kita pakai ada yang terbuat dari tulang babi."
"Kita tidak punya pabrik minuman, tidak punya pabrik makanan, tidak punya pabrik pakaian, tidak punya televisi yang Islami, tidak punya radio yang Islami, tidak punya Koran yang Islami dan banyak hal lainnya yang mempengaruhi hajat hidup muslim. Maka kita ummat Islam akan memakan makanan haram, meminum minuman haram, memakai pakaiaan haram dan seterusnya. Bagai mana doa kita bisa dikabul? Karena pakaian kita haram, minuman kita haram, pakaian kita haram !”

Saya berfikir lebih jauh lagi. Bagaimana kalau dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi tidak sekedar berisi barang haram tapi berisi zat-sat yang menyebabkan invertil alias mandul,  tidak subur. Karena kita tidak punya pabriknya.
Orang Islam menjadi tidak subur alias mandul. Susah punya anak. Kalaupun punya hanya satu atau dua orang. Sementara orang-orang kafir anaknya lima, tujuh, sepuluh. Dari 93 % ummat Islam turun jadi 90%. Kemudian 87 %, lalu 85 %. Limapuluh tahun lagi? Bahkan dalam WA yang saya terima Jend.Purn Yunus Yosfiah mengatakan ummat Islam murtad 2 juta orang setahun dan tinggal 70 % saja. Astaghfirullahhaladziim.
Masalah makanan dan minuman bukan hanya  sekedar halal haram tapi bisa juga jadi alat politik ekonomi dan itu mengancam keberlangsungan ummat Islam di Indonesia ke depan? Masa depan anak cucu kita !

“Jadi punya pabrik makanan dan minuman yang halal, pabrik pakaian yang Islami, televisi yang Islami, pusat perbelanjaan yang Islami hukumnya?” tanya saya.

Mengapa Gerakan Ekonomi Ummat Berbasis MASJID  Hadir Di Tengah-tengah Ummat ?

Almarhum.Bob Sadino pernah berkata,”Bangun tidur anda minum apa ?
1.Apa Aqua ? (74% sahamnya milik Danone perusahaan Perancis) atau Teh Sariwangi (100% saham milik Unilever Inggris).
2.Minum susu SGM (milik Sari Husada yang 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda).
3.Lalu mandi pakai Lux dan Pepsodent (Unilever,Inggris).
4.Sarapan ? Berasnya beras impor dari Thailand (BULOG pun impor), gulanya juga impor (Gulaku - Malaysia) . - Mau santai habis makan, rokoknya Sampoerna (97% saham milik Philip Morris Amerika). Keluar rumah naik motor/ mobil buatan Jepang, Cina, India, Eropa tinggal pilih.
5.Sampai kantor nyalain AC buatan Jepang, Korea, Cina. Pakai komputer, Hand Phone (operator Indosat, XL,Telkomsel semuanya milik asing; Qatar, Singapura, Malaysia).
6.Mau belanja ? Ke Carrefour, punya Perancis. Kalo gitu ke Alfamart (75% sahamnya Carrefour). Bagaimana dengan Giant? Ini punya Dairy Farm International, Malaysia yang juga Hero.
7.Malam-malam iseng ke CircleK dari Amerika. Ambil uang di ATM BCA, Danamon, BII, Bank Niaga…. ah semuanya sudah milik asing walaupun namanya masih Indonesia.
8.Bangun rumah pake semen Tiga Roda Indocement sekarang milik Heidelberg (Jerman, 61,70%). Semen Gresik milik Cemex Meksiko, Semen Cibinong punyanya Holcim (Swiss).
9.Masih banyak lagi kalo mau diterusin. By the way, BB atau HP Anda- pun buatan luar " dan masih banyak lagi belum dari makanan.”
Indonesia adalah negara yang kaya raya. Emas, Perak, Tembaga, Batu Bara, Minyak dan Gas, rempah-rempah yang beraneka ragam, flora dan fauna dengan ribuan spesies, ikan yang melimpah, hutan yang menghijau terbentang sejauh mata memandang dengan lebih 17.417 kepulauan yang Indah mempesona. Tapi sayang semua itu tidak dikuasai oleh kita bangsa Indonesia, kita kaum muslimin 
Mengapa dalam sholat, Rasulullah memerintahkan kita untuk berjama’ah? Disamping pahala yang diperoleh 27 derajat lebih banyak dari sholat sendirian, disana juga tampak kesatuan ummat sehingga dapat meraih kemandirian dan kemenangan (Al Falah) seperti dikumandangkan dalam adzan. Aplikasi berjama’ah dalam sholat harus kita praktekkan dalam kegiatan sehari-hari, termasuk dalam ekonomi. Gerakan Ekonomi Ummat Berbasis MASJID adalah upaya untuk membangkitkan kembali kesadaran ummat Islam untuk berekonomi serta mengambil kembali peran ekonomi ummat Islam. Mengambil kembali pengelolaan kekayaan bangsa Indonesia dari tangan asing. 

Membangun Ekonomi Ummat Berbasis Masjid

Sejak kemunculannya pertama kali, Islam yang dibawa Rasulullah SAW telah didukung oleh pengusaha dan konglomeerat muslim seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Dan harus tetap seperti itu sepanjang masa agar Islam tetap jaya, terhormat dan sesuai fitrahnya.
Kekayaan yang hakekatnya adalah milik Allah yang dititipkanNya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan mereka yang mengerti hakekat ini akan menggunakannya untuk menolong agama Allah SWT.
Setibanya Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, maka Rasulullah melakukan tiga hal besar dan strategis dimana setelah itu Islam menyebar kepenjuru dunia. Ketiga hal tersebut adalah:
1.Membangun masjid
2.Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor
3.Menguasai pasar
Masjid sebagai simbol tauhid dan pusat ibadah kaum muslimin hari ini tersebar tak kurang dari 1,7 juta masjid di Indonesia. Hari ini kajian tentang tauhid, fiqh, hadits, dan lain sebagainya menjadi program rutin di masjid-masjid.
Sedangkan Ukhuwah Islamiah adalah tema yang senantiasa dikumandangkan para ustadz saat khubah di masjid dan pengajian. Kedua peran tersebut diatas telah banyak pihak yang melakukannya.
Ekonomi adalah satu-satunya hal yang luput dibicarakan bahkan dalam beberapa kasus dilarang dibicarakan dimasjid. Hal itulah yang menyebabkan kami MTW (Majelis Ta’lim Wirausaha) terpanggil untuk membangun ekonomi ummat dengan menjadikan masjid sebagai basis utama pembinaan ummat sebagaimana di zaman Rasulullah SAW. MTW Triangle Model

Untuk mencapai tujuan tersebut kami mengembangkan model yang kami sebut  MTW TRIANGLE MODEL.

MTW TRIANGLE terdiri dari tiga komponen utama:
  1. THEMA. Adapun tema yang kami komunikasikan adalah “Membangun Ekonomi Ummat Berbasis Masjid.”
  2. TERITORI dengan target tersebar di 34 Provinsi, 20 Negara dan 100.000 Masjid
  3. MASSA yang terdiri dari:
  • 20 juta pengusaha UMKM
  • 2.000 pengusaha besar
  • 100 konglomerat
Ketiga segment target pengusaha tersebut diatas memiliki strategi serta program yang khas dan berbeda untuk masing-masing kelompok.
Semua hal tersebut diatas kami targetkan akan tercapai di tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut kami menggunakan dua instrumen utama yaitu MTW (Majelis Ta’lim Wirausaha) dan MasjidKita.org

MTW (Majelis Ta’lim Wirausaha)

MTW kepanjangan dari Majelis Ta’lim Wirausaha. Didirikan oleh Ust.Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dua tahun lalu dengan mengadakan ta’lim di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia Jakarta.
Setelah kajian MTW bulanan dengan menghadirkan pengusaha nasional Sandiaga Uno yang dihadiri ribuan jama’ah, Ust.Valentino Dinsi mengelompokkan jama’ah MTW berdasarkan minat bisnis masing-masing jama’ah seperti: Properti, Fashion, Kuliner, Agro, IT, Pendidikan, Perdagangan Umun, dan lain sebagainya.
Dalam Kelompok Bisnis tersebut jama’ah MTW melakukan berbagai macam aktivitas seperti:
  1. Grup Whats App (WA)
  2. Kuliah WA berupa sharing pengalaman dan rahasia sukses anggota yang telah berhasil kepada seluruh anggota grup.
  3. KOPDAR (Kopi Darat) di restoran atau gedung pertemuan dengan menghadirkan nara sumber pegusaha nasional yang sukses dibidangnya untuk berbagi pengalaman, inspirasi dan motivasi kepada Jama’ah MTW.
  4. KUBIS (Kunjungan Bisnis) dengan mengunjungi pabrik atau tempat usaha pengusaha sukses yang menjadi pembicara pada acara KOPDAR sebelumnya.
  5. SINERGI dengan cara membentuk usaha bersama dari anggota grup baik berupa PT (Perseroan Terbatas), Joint Venture atau sinergi lainnya.
Dalam tempo singkat hanya 2 tahun, MTW telah menjelma dari sekedar pengajian di masjid menjadi Social Corporation (Perusahaan Sosial) yang kepemilikannya dimiliki oleh jama’ah-jama’ah MTW itu sendiri. MTW juga telah mendirikan koperasi sebagai sarana pembiayaan dan pemasaran serta distribusi bagi usaha-usaha jama’ah MTW. ALHAMDULILLAH, MTW sejak 14 Mei 2016 telah menempati gedung baru, MTW PLAZA berlantai tiga di Margonda, Depok.
Dengan semakin berkembangnya MTW ke berbagai provinsi di Indonesia dan di luar negeri dengan puluhan ribu jama’ah (Insya Allah akan mencapai puluhan juta jama’ah setelah diluncurkannya web dan App MASJID KITA, www.masjidkita.org pada bulan Ramadhan ini).

Target: Dibuka di 34 Provinsi diseluruh Indonesia serta 20 negara serta 100.000 masjid yang menerapkan sistem dan metode yang telah diterapkan oleh MTW.

Tentang Masjid Kita

Masjid Kita dibangun karena adanya kebutuhan untuk menghubungkan masjid dengan jamaahnya melalui media digital. Dengan menggunakan Masjid Kita, masjid dapat mempublikasikan kegiatan sekaligus sebagai sarana berdakwah melalui aplikasi, web, dan tv masjid. Jangkauan media digital yang luas memungkinkan Masjid Kita dapat menjangkau jamaah di seluruh indonesia.
Masjid Kita awalnya dibangun karena banyaknya permintaan dari masjid dan pesantren di Indonesia yang mengundang Ust.Valentino Dinsi untuk membuat dan menerapkan sistim MTW (Majelis Ta’lim Wirausaha) di masjid maupun pesantren mereka. Insya Allah platform ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh Masjid dan pesantren di Indonesia.
Harapan kedepannya Masjid Kita dapat membantu memakmurkan masjid dan membangun ekonomi ummat. Platform Masjid Kita dapat digunakan oleh masjid dan umat Islam secara gratis.

Keuntungan Bagi Masjid

  • Mempublikasikan kegiatan masjid agar umat bisa mendapat informasi kegiatan seperti pengajian dan memungkinkan umat untuk mendaftar pada suatu kegiatan sehingga memudahkan pengurus masjid untuk mengatur konsumsi.
  • Melakukan crowd funding untuk renovasi dan kegiatan masjid berupa ZISWAF secara online dan melaporkan keuangannya secara real time. Masjid Kita dapat menjangkau jamaah di seluruh indonesia dan internasional.
  • Masjid Kita juga memudahkan ustadz untuk berdakwah melalui smartphone dengan bantuan teknologi push notification, sehingga dakwah kepada umat bisa dilakukan secara efektif dan efisien.
  • Masjid dan ummat dapat membangun ekonomi ummat berbasis masjid dengan menggunakan model, sistem dan teknologi serta modul-modul yang telah diterapkan di MTW (Majelis Ta’lim Wirausaha) dan menjadikan masjid sebagai pusat pengembangan ekonomi ummat di wilayahnya masing-masing.

Keuntungan bagi Umat

  • Update dengan kegiatan masjid dan mendapatkan informasi dakwah langsung dari pengurus atau ustadz masjid yang di follow.
  • Pengguna juga dapat memberikan infaq atau sedekah secara online baik berupa ZISWAF maupun sumbangan untuk renovasi dan kegiatan masjid lainnya serta melihat laporan keuangannya secara real time.
  • Mendapatkan berbagai informasi pendukung ibadah seperti jadwal shalat, pengingat shalat, penunjuk arah kiblat, dan pencarian masjid terdekat serta mengetahui jadual ustadz yg mereka favoritkan.
  • Dapat bergabung dalam Group Bisnis MTW yang diadakan di masjid yang mereka follow dengan menggunakan model, sistem dan teknologi serta modul-modul yang telah diterapkan di MTW (Majelis Ta’lim Wirausaha) dan menjadikan masjid sebagai pusat pengembangan ekonomi ummat di wilayahnya masing-masing.
Target: Terdapat 100.000 masjid diseluruh Indonesia yang bergabung dengan App Masjid Kita dan di follow oleh 200 orang setiap masjid (total 20 juta follower)

Target Jangka Menengah

Mengacu pada model “Membangun Ekonomi Ummat Berbasis Masjid.” Maka dalam 15 tahun kedepan akan dicapai:
  1. 20 juta pengusaha UMKM yang sholeh dan bertaqwa.
  2. 2.000 pengusaha besar dengan asset masing-masing minimal 5 trilyun.
  3. 100 konglomerat muslim  yang memiliki komitmen untuk menolong agama Allah dan RasulNya.

Target Jangka Panjang

  1. Lahirnya pemimpin ummat masa depan yang berasal dari masjid (RT/RW, Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur bahkan Presiden)
  2. Menjadikan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dari segala aspek kehidupan yang tampil ditengah-tengah manusia dalam berbagai aspeknya. Peran ekonomi dan pengusaha muslim adalah sebagai katalisator ummat.

Dampak Bagi Ummat

Adapun dampak yang kami harapkan dengan digulirkannya gerakan ini adalah:
  1. Terjadi perubahan paradigma dikalangan ummat Islam bahwa  MENJADI PENGUSAHA adalah FARDHU KIFAYAH yang akan mensejahterakan kehidupan mereka dan ummat Islam.
  2. Makmurnya masjid-masjid di Indonesia dimana berbondong-bondong ummat datang ke masjid untuk mempelajari Islam dimana ekonomi syariah atau bisnis Islami adalah magnit utama yang menarik mereka datang ke masjid.
  3. Tumbuhnya sentra-sentra ekonomi di sekitar masjid yang berasal dari jama’ah masjid sebagai pelaku ekonomi sehingga dapat mereduksi ekspansi retail-retail non muslim dan asing.
  4. Berhimpunnya pedagang-pedagang di sekitar masjid dikarenakan mereka ingin mengembangkan usaha mereka atau mendapatkan modal usaha dari lembaga keuangan yang dibangun di masjid yang pada akhirnya mereka inilah pembayar zakat, infaq dan shadaqoh serta penyokong utama pendanaan dakwah di sekitar masjid yang akan mengentaskan kemiskinan masyarakat sekitarnya.
  5. Lahirnya pedangang-pedagang serta konglomerat muslim yang menjadi penyokong utama dakwah Islam sebagaimana Abdurrahman bin Auf, Ustman bin Affan, Abubakar Shiddiq, Umar bin Khotob telah melakukannya di kali pertama kemunculan Islam. Dan disinilah letak surga bagi para pengusaha muslim.

Dukungan Anda

Apa yang kami lakukan adalah sebagian kecil dari amal Islami untuk membangun kembali harga diri dan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Saudaraku muslim dapat mendukung apa yang kami lakukan berupa:
1.Membantu pendanaan berupa zakat, infaq dan shadaqoh dari usaha atau lembaga yang Bapak/Ibu pimpin.
2.Berinergi bisnis dengan usaha-usaha yang dijalankan oleh jama’ah MTW (Majelis Ta’lim Wirausaha).
3.Berkontribusi berupa jaringan, ide dan gagasan serta pemikiran strategi yang akan menjadikan apa yang kami lakukan ini tersebar dengan cepat kepada ummat Islam di seluruh Indonesia.
4.Tenaga dan doa agar kami tetap ikhlas dan jujur dalam mengemban risalah dakwah ekonomi ini.

 

DUKUNG & Daftarkan diri atau masjid Anda dengan cara meng-klik 
 

Donasi & Hubungi Kami:

Bapak/Ibu dapat mengirimkan bantuan berupa  ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqoh dan Wakaf) ke: Bank BNI Syariah Acc.3000 700 806 a/n. Valentino Dinsi QQ Majelis Ta’lim Wirausaha
MTW PLAZA:Jl. Margonda Raya 180 – Depok (Sebelah D Mall, Depan Bank BCA). Telp. 021-50599559, HP Ust.Valentino Dinsi, MM, MBA: 0815 1414 4583

Dukung dan sebarkan Gerakan Ekonomi Ummat Berbasis MASJID (GEUMA) ini ke semua saudara-saudara dan sahabat Anda, ajaklah mereka berpartisipasi dalam kebaikan. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.” (H.R. Muslim)

"PERAN MASJID DALAM MEMBANGUN EKONOMI UMMAT"

Masjid adalah tempat ibadah kaum muslimin yang memiliki peran strategis untuk kemajuan peradaban ummat Islam. Sejarah telah membuktikan multi fungsi peranan masjid tersebut. Masjid bukan saja tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pengajian keagamaan, militer dan fungsi-fungsi  sosial-ekonomi lainnya.
pada kebijakan Rasulullah yang pertama ialah membangun Masjid sebagai tempat ibadah, menguatkan rasa persaudaraan, mendalami ajaran Islam baik dalam segi Ibadah maupun Mualamah.

Rasulullah SAW pun telah mencontohkan multifungsi masjid  dalam membina dan mengurusi seluruh kepentingan umat, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, pendidikan, militer, dan lain sebagainya. Sejarah juga mencatat, bahwa masjid Nabawi oleh Rasulullah SAW difungsikan sebagai (1) pusat ibadah, (2) pusat pendidikan dan pengajaran, (3) pusat penyelesaian problematika umat dalam aspek hukum (peradilan) (4). pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui Baitul Mal (ZISWAF). (5) pusat informasi Islam, (6) Bahkan pernah sebagai pusat pelatihan militer dan urusan-urusan pemerintahan Rasulullah. Masih banyak fungsi masjid yang lain. Singkatnya, pada zaman Rasulullah, masjid dijadikan sebagai pusat peradaban Islam.

Masjid menjadi salah satu tempat kebajikan dan kemaslahatan ummat, baik dalam ukhrawi maupun duniawi dalam segala macam aspek manajemen masjid. Namun pada masa kini, fungsi masjid terlalu berdimensi duniawi sehingga peran-peran masjid pada masa kini jauh berbeda dengan masa kebijakan Rasulullah SAW pada masa itu. Banyak masjid berdiri megah nan mewah, namun masih banyak jamaah masjid itu sendiri yang ekonominya jauh dari cukup.

Dimana fungsi masjid yang Rasulullah SAW terapkan? *Renungkan
Ibnu Khaldun pernah berkata “Ekonomi adalah tiang dan pilar paling penting untuk membangun peradaban Islam (Imarah). Tanpa kemapanan ekonomi, kejayaan Islam sulit dicapai bahkan tak mungkin diwujudkan. Ekonomi penting untuk membangun negara dan menciptakan kesejahteraan umat”.

Lalu bagaimana peran Masjid dalam membangun Ekonomi Ummat?

Salah satu peran atau fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW adalah sebagai pusat pemberdayaan Ekonomi Ummat melalui Baitu Mal (ZISWAF). Pada masa sekarang, peran Nazir masjid atau pengurus masjid atau DKM masjid sangat penting dalam hal ini. Masalah Nazir Masjid Banyak problem mismanajemen dalam memakmurkan masjid yang terjadi saat ini. Salah satu penyebab terjadinya mismanajemen tersebut   adalah pengurus masjid (nazir mesjid) yag kurang memiliki kapabilitas dan kurang berwawasan dalam beragama. Padahal nazir masjid, khususnya yang membidangi dakwah, sangat menentukan untuk kebangkitan kembali peradaban Islam seperti masa lampau. Nazir masjid sangat menentukan maju-mundurnya umat Islam. Nazir masjid yang kurang berwawasan yang memandang agama Islam sebatas ibadah dan aqidah hanya tertarik dengan kajian spiritual belaka, sehingga mereka mengundang para ustaz yang ahli fiqih ibadah dan ahli teologi/sufistik saja. Nazir masjid sangat jarang memilih materi ekonomi Islam yang ruang lingkupnya sangat luas. Padahal mengkaji ekonomisyariah hukumnya wajib. Menurut Husein Shahhatah, dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari.  

Selama ini materi ceramah dalam pengajian rutin berkisar di seputar tauhid,tasawuf, fiqh, keluarga sakinah, akhlak dan adapula yang secara khusus mengkaji tafsir atau hadits. Namun sangat jarang membahas kajian muamalah (ekonomi Islam). Padahal ekonomi Islam adalah bagian penting dari ajaran Islam. Masalah ekonomi adalah masalah paling urgen (dharury). Para ulama masa lampau  tak pernah mengabaikan kajian muamalah (ekonomi Islam). Hal itu bisa dibuktikan dalam kitab-kitab hasil karya mereka. Ekonomi Islam bukan saja menjadi pilar dan rukun kemajuan Islam, tetapi juga merupakan fardhu ’ain untuk diketahui setiap muslim. Nazir masjid yang cerdas dan ingin akan kebangkitan Islam, akan menjadikan materi ekonomi Islam sebagai salah satu materi kajian dalam pengajian agama di masjid, baik dalam pengajian rutin atau tabligh keagamaan maupun dalam khutbah jum’at.

Jika Nazir masjid sudah diisi oleh orang-orang yang paham ibadah dan muamalah, paham system ekonomi islam, bukan tidak mungkin mereka akan membangun sebuah Baitul Mal untuk pemberdayaan Ekonomi Ummat.

Peran Baitul Mal untuk masjid sangat berperan penting bagi ummat atau jamaah. Baitul Mal yang berfungsi sebagai penghimpun dana dan penyalur dana baik itu untuk Zakat, infak, Shodaqoh dan wakaf maupun menyimpan uang, akan sangat membantu pereknomian ummat atau jamaah setempat.

Contoh, ummat yang sedang membutuhkan uang, ia tidak harus susah payah pinjam ke Renternir ataupun Bank, yang pada umumnya memakai system bunga pada pinjamannya, dan kita tahu bahwa itu adalah Riba, dan Riba jelas-jelas sudah dilarang oleh Allah SWT. Dengan adanya baitul Mal, ummat dapat meminjam dana dari Baitul Mal dengan tidak memakai bunga, dia pinjam 1 juta, maka ia harus mengembalikannya 1 juta pula, tidak ada embel-embel lainnya.

Dan tidak hanya masalah pinjam uang, contoh lain yakni jika ada keluarga jamaah yang meninggal dengan kondisi ekonomi kebawah, peran masjid melalui Baitul Mal ini sangat penting, karena melalui Baitul Mal, Nazir masjid dapat memberikan bantuan berupa perlengkapan yang dibutuhkan, misalnya kain kafan, sabun, wewangian maupun dana.

Bahkan dari sisi ekonomi, kita bisa menjadikan mustahiq sebagai pengusaha/pedagang. Dengan cara memberikan modal usaha kepada para mustahiq untuk berdagang, dengan kesepakatan nisbah/bagi hasil keuntungan atau kerugian. Misalnya, nisbah yang disepakati adalah 40:60, 40% untuk masjid dan 60% untuk Mustahiq, jadi jika mendapat keuntungan 500.000, si mustahiq wajib memberikan 40% dari 500.000 itu itu kepada masjid, namun jika mengalami kerugian, maka akan ditanggung oleh keduanya, agar tidak saling memojokan satu sama lain. Masih banyak fungsi Baitul Mal yang dapat memakmurkan dan mensejahterakan pereknomian ummat.

Tidak hanya Baitul Mal, mungkin saja untuk kedepannya Ummat/Jamaah akan banyak mengerti dengan system ekonomi Islam. Mulai dari akad-akad dalam muamalah seperti Syirkah, Ijarah, Rahn, Salam, Istishna, Hawalah, Wakalah, Wadiah, Mudharabah dll, dan mengetaui transaksi yang dilarang oleh Islam, seperti Riba, Gharar, Maysir, manipulasi, dll. Materi ini secara mendasar harus dipahami oleh Umat Islam agar tidak terpelosok kedalam transaksi yang Batil. Ulama Abdul Sattar, mengatakan, mengetahui hukum ekonomi Islam adalah dharuriyah (kemestian primer/utama) yang tak bisa ditawar. Jika tidak diketahui, maka dikhawatirkan sekali umat Islam akan terperosok kepada praktek  kebatilan.



Jika semua dapat dibangun dan diterapkan, maka Insya Allah peran masjid dalam Membangun Ekonomi Ummat akan terus berkembang. Pembagian zakat akan merata, kemiskinan akan berkurang, jumlah mustahiq akan berkurang, serta kesenjangan Perekonomian Ummat akan sejahtera.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dapat mewujudkan peran masjid dalam membangun ekonomi ummat dan para nazir/pengurus masjid mampu membantu para Jamaah disekitarnya.

Oleh    :     Ahmad Sarnubih
      Mahasiswa Perbankan Syariah Univ. Muhammadiyah Tangerang
      Ketua Kelompok Studi Ekonomi Islam “SCiBe UMT” 2015-2016
      Anggota Himpunan Remaja Masjid Al-Furqon, Jurumudi - Benda-Tangerang

Kisah Utsman bin Affan, sahabat Rasulullah yang kaya raya

Utsman bin Affan Al-Amawi Al-Quarisi akrab di sapa Abu Abdullah, beliau berasal dari Bani Umayyah. Utsman dikenal sebagai seorang pedagang kain yang kaya raya dan dermawan. Dia terkenal dengan ahli ekonomi dengan jumlah ternak yang dimilikinya melebihi peternak-peternak yang lain.

Utsman disebutkan termasuk ke dalam golongan as-Sabiqun al-Awwalin, yaitu orang-orang yang terdahulu masuk Islam dan beriman.

Utsman selalu menggunakan kekayaannya di jalan Allah SWT untuk mendapatkan ridha Allah. Dikutip dari buku Pemuda Yang Dicintai Langit karya Dwi Rahayu, Utsman membeli sebuah sumur yang sangat jernih airnya, kemudian sumur itu dia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Dia juga memperluas Masjid Madinah dan menyumbangkan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda serta 1000 dihram untuk perang Tarbuk.

Lalu Utsman memberikan gandum yang diangkut oleh 1000 unta untuk membantu orang miskin di kala musim kering. Di hari Jumat, dia akan memerdekakan seorang budak.

Utsman melakukan perjalanan hijrah menuju Habsyah (Abyssinia, Ethiopia) ketika kaum kafir Quraisy melakukan penyiksaan terhadap kaum muslim. Utsman hijrah bersama teman-temannya seperti Abu Khudzaifah, Zubir bin Awwam, Abdurahman bin Auf, dan lain-lain. Dia datang sesuai perintah Rasulullah untuk hijrah ke Madinah.

Tanpa berpikir panjang, Utsman meninggalkan harta kekayaannya begitu saja. Semua usaha dagangannya serta rumahnya dia tinggalkan begitu saja untuk memenuhi panggilan Allah SWT.

Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab wafat. Saat itu usia beliau sekitar 70 tahun. Pada masa kepemimpinannya, disebut-sebut masa yang paling makmur dan sejahtera. 

Hingga konon, rakyat menunaikan ibadah haji berkali-kali. Karena semakin ramainya umat muslim yang pergi haji, Utsman kemudian memperluas Masjid Al-Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).

Dia yang mencetuskan adanya polisi keamanan untuk rakyat dan membuat tempat khusus untuk mengadili suatu perkara, karena biasanya suatu perkara akan diadili di masjid. Pada masa kepemimpinannya, dia berhasil menguasai Syria dan wilayah Afrika Utara, Mu'awiyah bin Abu Sofyan dan Amr bin Ash diangkat menjadi gubernur untuk kedua wilayah tersebut. Selain itu wilayah-wilayah lain yang berhasil dia kuasai adalah Arjna, Persia, Khurasan dan Nashabur (Iran).

Utsman membukukan lembaran-lembaran Alquran (mushaf) yang hingga sekarang dibaca oleh umat muslim seluruh dunia. Dia menjadi seorang khalifah selama 12 tahun, dan wafat saat sedang membaca Alquran di bulan haji tahun 35 Hijiriah. Saat itu usia Utsman sekitar 82 tahun. Beliau dimakamkan di wilayah Madinah.

Abdurrahman bin Auf: Pengusaha Sukses yang Dijamin Masuk Surga

Siapa pun dapat masuk surga dengan potensi yang mereka miliki. Inilah yang dibuktikan oleh Abdurrahman bin Auf. Ia memiliki latar belakang perjuangan yang berbeda dengan tiga sahabat sebelumnya. Ia adalah ahli surga yang berasal dari kalangan pengusaha. Kecerdasannya dalam berbisnis membuat segala hal yang ia lewati menjadi peluang. Bahkan, ketika memindahkan sebuah batu ia berharap di bawah batu itu terdapat emas dan perak. Betapa ia sangat bersemangat dalam mencari uang. Lalu mengapa pengejar harta seperti Abdurrahman bin Auf dapat masuk surga bersama Isa bin Maryam?

Abdurrahman bin Auf termasuk garda terdepan penerima ketauhidan yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Ia adalah sahabat Abu Bakar dan termasuk orang kelima yang di Islamkan olehnya. Sebagai seorang pengusaha, ia tidak apatus dengan peperangan. Ia mendapatkan 20 hujaman dan giginya rontok dalam perang Uhud. Ia menyadari, pengorbanan yang harus diberikan kepada Islam bukan hanya harta tetapi juga jiwa.

Berhijrah ke Habasyah adalah salah satu tugasnya dalam menjalankan roda dakwah Rasulullah Saw. Sesungguhnya hijrah yang pertama dilakukan oleh kaum Muslimin adalah ke Habasyah. Mereka berpindah karena gangguan dari kaum musyrikin Quraisy yang semakin menjadi. Ada yang menganggap kepergiannya adalah refleksi dari kegentarannya menghadapi ujian keimanan. Namun, Allah Swt. Menjelaskan, hijrah adalah sesuatu yang diharuskan jika tantangan di tempat asal sudah sangat besar.

Dengan kemampuannya dalam berbisnis, Abdurrahman bin Auf juga membawa seluruh kekayaannya ketika berhijrah ke Madinah. Di perjalanan kekayaannya dirampas oleh Quraisy, penguasa Mekkah. Ia dan Suhaib Ar Rumi kehilangan seluruh harta kekayaannya.

Dalam keadaan demikian, Abdurrahman bin Auf tidak menyerah. Rasulullah Saw. mempersaudarakan orang-orang yang berhijrah yang kebanyakan pedagang dengan orang-orang asli Madinah yang mayoritas petani. Di Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad ibnu Arabi Alausani. Ia memberikan sebagian harta dan menawarinya seorang calon istri. Abdurrahman bin Auf hanya berkata, “Semoga Allah Swt. memberkahi hartamu dan keluargamu, tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.”

Abdurrahman bin Auf memang pebisnis yang handal. Dengan modal secukupnya ia berjualan keju dan minyak samin, bangkit dan mampu menikah dengan salah satu perempuan Anshar. Setelah menikah dengan memberi mahar sebutir emas (seberat sebutir kurma) Rasulullah Saw memintanya mengadakan walimah. Ini adalah pertanda, pernikahan sesederhana apa pun harus dilanjutkan dengan walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.

Rasulullah Saw juga sangat menghargai kemandirian Abdurrahman bin Auf dalam hal ekonomi. Rasulullah Saw, bersabda, “Seorang yang mencari kayu lalu memanggulnya lebih baik daripada orang yang mengemis yang kadangkala diberi atau ditolak. (H.R. Bukhari)
Pesan ini membuat seluruh Muslimin yang ada di Madinah bangkit dan bekerja menjadi petani, pedagang, dan buruh. Tidak ada seorang pun yang menganggur, termasuk kaum perempuan.

Dalam beberapa waktu, Abdurrahman bin Auf menjadi orang kaya dan Rasulullah Saw, berkata kepadanya, “Wahai Abdurrahman bin Auf, kamu sekarang menjadi orang kaya dan kamu akan masuk surga dengan merangkak (mengingsut). Pinjamkanlah hartamu agar lancar kedua kakimu” (H.R. Al-Hakim).

Pernyataan itu membuat Abdurrahman bin Auf berpikir keras dan banyak menginfakkan hartanya di jalan Allah Swt. Ia berkata, “Kalau bisa aku ingin masuk surga dengan melangkah (berjalan kaki)”. Ia berlomba dengan pebisnis lain, yaitu  Ustman bin Affan dalam bersedekah. Abdurrahman bin Auf memberikan separuh hartanya untuk dakwah Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw berkata, “Semoga Allah Swt memberkahi apa yang kamu tahan dan kamu berikan.“ Abdurrahman bin Auf hartanya menjadi berlipat ganda sehingga ia tak pernah merasa kekurangan. 

Setelah Abdurrahman bin Auf bersedekah, turunlah firman Allah Swt, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah Swt kemudian ia tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan menyakiti perasaan (si penerima), mereka mendapat pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula merasakan bersedih hati.”

Sebelum wafat, Abdurrahman bin Auf menginfakkan 400 dinar hartanya untuk peserta perang Badar  yang masih hidup. Setiap orang mendapatkan empat dinar termasuk Ali R.a. dan Ustman R.a. Ia juga memberikan hadiah kepada Umul Mukminin (janda-janda Nabi Saw). Aisyah R.a. pun berdo’a untuknya, “Semoga Allah Swt memberi minum kepadanya air dari mata air salsabila di surga”.

Abdurrahman bin Auf wafat dalam usia 75 tahun. Ia dishalatkan oleh saingannya dalam berinfak di jalan Allah Swt, yaitu Ustman R.a. Ia di usung oleh Sa’ad bin Abi Waqqas ke pemakaman Al Baqi. Setelah Abdurrahman bin Auf wafat, Ali berkata, “Pergilah wahai Ibnu Auf, kamu telah memperoleh kejernihan dan meninggalkan kepalsuan (keburukannya)”. (H.R. Al-Hakim)

Abdurrahman bin Auf telah genap memperoleh segala kebaikan dari hartanya, dan meninggalkan segala keburukan yang ada pada harta dunia.

sumber : suara-islam.com

Sholat Shubuh di Turki Seramai Sholat Jum’at di Indonesia

MasjidKita 03 April 2017 
Artikel
Inilah catatan perjalanan Ketua Umum BAZNAS Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc ke Turki beberapa waktu lalu. Cerita yang mengagumkan dari Negeri berjuluk Negara Sekularisme itu bukan tentang warna-warni kota Istanbul yang menggoda atau perempuan-perempuan yang cantik nan elok mempesona, tapi tentang kehidupan keagamaan masyarakatnya yang berkembang pesat luar biasa.
Dr.KH Didin Hafidhuddin, M.Sc menceritakan pengalamanya saat berkunjung ke Turki beberapa waktu yang lalu. Turki benar-benar berubah 180 derajat sejak dipimpin Erdogan dengan AKP nya.
Hal yang sangat menakjubkan adalah suasana religiusitas masyarakat Turki yang sangat luar biasa. Saat ini masjid-masjid sangat ramai dengan anak-anak muda yang beribadah dan melakukan kegiatan keIslaman. Yang semakin mengagumkan adalah ketika waktu Sholat Shubuh, masjid di Turki sangat penuh sesak dengan Jamaah yang didominasi anak muda, hampir mirip dengan suasana Sholat Jum’at di Indonesia.
Dr Didin mengingat kembali ketika dirinya berkunjung ke Turki sekitar tahun 1990-an, saat itu Turki masih sangat Sekuler. Jangankan waktu Sholat Shubuh, ketika azan Sholat Maghrib pun tak ada yang Sholat di Masjid. Saat itu saya Sholat hanya dengan istri beserta anak, karena tak ada jamaah lain dari warga Turki yang Sholat.
“Luar biasa dan yang lebih mencengangkan Para Remaja Turki ke masjid dengan mobil-mobil mewah di parkir di halaman masjid” ujar Dr Didin.
Selain tingkat religiusitas masyarakat Turki yang menjadi lebih baik, kondisi ekonomi Turki saat ini juga sangat luar biasa. Dengan tanpa bantuan pinjaman luar negeri, pemerintah Turki sanggup membangun Turki dan sanggup bersaing dengan negara maju dunia.
Peringkat ekonomi Turki lompat dari 111 menjadi 16, sehingga Turki masuk 20 negara kuat (G20). Pendapatan per kapitanya naik dari 3.500 dolar AS pada 2003 menjadi 11.000 dolar AS pada 2013.
Sebelumnya, Pemerintah Turki mencanangkan 3 Program Nasional:
1. Gerakan Sholat Subuh Berjamaah di Masjid
2. Gerakan Infaq Shodaqoh
3. Gerakan Ekonomi Ummat
Dan Program gerakan sholat Subuh berjamaah memperoleh sambutan luar biasa dari masyarakat Turki, dan hasilnya sungguh mencengangkan….! Sholat subuh di sana sangat ramai seperti sholat jumat di indonesia.
Bisa jadi Sholat subuh berjamaah di Masjid menghasilkan rahasia yang menakjubkan. Itu dibuktikan dengan berbagai kesulitan nasional Turki, nampaknya bisa dipecahkan dengan mulus dan lancar setelah diluncurkannya program sholat Subuh berjamaah tersebut.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kapan negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim ini menjadi negeri demokrasi yang berelegiutas tinggi? Semoga tak lama lagi,
Sumber Islamedia.com dan sumber lainnya